Hasil Ekspedisi Tim Riau Pos
Rupat Utara, Bengkalis, Riau, memiliki panorama alam yang indah. Pulau yang langsung berhadapan dengan Selat Melaka itu, ibarat “surga” yang tersembunyi.Untuk menuju pantai ini sebenarnya tidak begitu sulit. Dari Dumai ada speedboat jurusan Tanjung Medang, ibukota Kecamatan Rupat Utara. Dermaganya di Pelabuhan Rakyat (Pelra) Jalan Budi Kemuliaan, Dumai. Dalam sehari ada dua trip, yakni pukul 09.00 dan 15.00 WIB. Ongkosnya Rp 110 ribu dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Speedboat ini sebelum sampai di pelabuhan Tanjung Medang singgah dulu di pelabuhan Desa Titi Akar.
Setelah bertolak dari Titi Akar menuju Tanjung Medang, perlahan-lahan potensi wisata Pulau Rupat mulai terlihat. Pertama adalah Pulau Babi, pulau tanpa penghuni yang di balik keindahannya menyimpan cerita menakutkan.
Saat speedboat melintasi pulau itu dari jarak beberapa ratus meter, terlihat pasir putih menghampar di salah satu sisinya. Dari jauh, keindahannya seakan menutupi cerita seram yang menyertai keberadaan pulau itu.
”Tidak tahu kenapa disebut Pulau Babi. Tapi katanya dari atas bentuknya terlihat seperti babi,” kata salah satu penumpang speedboat.
Tak jauh dari Pulau Babi, terlihat ada pulau sangat kecil yang juga dikelilingi pasir putih. Bahkan karena laut sedang surut, dari jauh terlihat pulau itu sebenarnya menyatu dengan Pulau Babi. ”Yang kecil tu namanya Pulau Beting Aceh. Kata yang pernah ke sana memang pasir putihnya sangat bagus dan landai,” katanya lagi.
Tak lama kemudian terlihat pulau lainnya, yakni Pulau Beruk. Tapi ada juga yang menyebutnya dengan Pulau Pak Haji.
Tak berapa lama setelah itu, kapal melewati sungai menuju pelabuhan Tanjung Medang. Dari pelabuhan menuju pantai terdekat, Teluk Rhu, bisa ditempuh dengan ojek selama 20 menit.
Namun menelusuri Pulau Rupat seperti pergi ke tanah asing. Nyaris tidak seperti berada di Riau, atau Indonesia umumnya. Warna berbeda mulai terlihat ketika masuk ke dalam perkampungan di Tanjung Medang. Rumah-rumah penduduk setempat, terutama dari etnis Tionghoa, terlihat unik dengan altar sembahyang mungil di halamannya. Belum lagi, kendaraan yang lalu lalang bukan bermerek Indonesia.
Tim ekspedisi tiba di Teluk Rhu sekitar pukul 14.00 WIB, saat itu air sedang surut. Terlihat hamparan pasir putih memanjang nyaris tak terlihat ujung pangkalnya. Saat surut hamparan pasir yang terlihat landai lebarnya mencapai 50-an meter. Pasirnya putih dan padat. Bahkan pemuda setempat biasa menggunakannya untuk balapan sepeda motor.
Pantai yang membentang itu biasa disebut Pantai Pasir Panjang, karena bentuknya memanjang sekitar 13 kilometer. Pantai tersebut masuk wilayah Teluk Rhu dan Tanjung Punak. Kemudian sampai ke Desa Sungai Cingam yang masuk wilayah Rupat bagian selatan. Kalau sampai ke ujung Selat Morong, kata penduduk setempat, panjangnya mencapai 28 kilometer. Namun terputus oleh sungai-sungai kecil.
Di Teluk Rhu, ujung pantai ini ditandai dengan adanya menara suar. Namun sepanjang beberapa ratus meter dari menara, lanskap pantai tak lagi alami. Pemerintah sudah membangun turap beton dilapisi pecahan batu alam untuk menangkis ombak dan mengurangi abrasi. ”Kalau tidak dibangun turap, rumah-rumah kami bisa tenggelam dimakan ombak,” kata penduduk setempat.
Namun pantai lainnya masih terlihat alami. Batas antara kawasan laut dan darat terlihat jelas, hanya dibatasi pasir dan rerumputan. Pepohonan kelapa yang berdiri kokoh di antaranya melengkapi keindahan pantai, yang disebut-sebut lebih indah dari pantai di Pulau Bali. Sisa-sisa air pasang terlihat dari sampah-sampah kayu yang tertinggal di bibir pantai. Beberapa kapal nelayan terlihat ditambatkan.
Kalau air laut sedang surut, dari Teluk Rhu sampai ujung pantai yang ada di Tanjung Punak dapat dilewati sepeda motor. Namun saat tim hendak menyusurinya, cuaca tidak bersahabat. Hujan berkali-kali turun hingga pukul 17.00 WIB. Air pun kemudian pasang dan perjalanan dilanjutkan melalui darat.
Menurut Idrus (70), warga Desa Teluk Rhu, sebenarnya keberadaan pantai tersebut sudah diketahui banyak orang. Hal ini terlihat dari banyaknya pengunjung pada waktu-waktu tertentu. Seperti saat tahun baru, libur nasional, dan paling ramai pada Rabu terakhir di Bulan Safar yang biasa disebut Mandi Safar.
Saat tim di sana, pengunjung yang terlihat hanyalah pemuda setempat sedang balapan sepeda motor dan belajar free style. Ada juga beberapa anak sekitar yang mandi sambil bermain-main dengan ombak.
Nuansa tersembunyi ”surga wisata” itu, semakin lengkap setelah melihat hanya ada satu penginapan di sana. Itu pun sangat sederhana, dari segi bangunan maupun fasilitas. Namanya Wisma Afira, berada persis di bibir pantai.
Bertabur Potensi
Lanskap pantai dengan deretan nyiur melambai sudah biasa ditemukan. Namun sangat sedikit pantai yang keindahannya dilengkapi dengan jajaran pohon cemara. Itulah yang tim temui di Pantai Lohong dan Makeruh, Desa Sungai Cingam, Kecamatan Rupat. Di sepanjang pantai, dedaunan cemara tampak melambai ditiup angin.
Pantai ini tak kalah indah dengan pantai di Rupat Utara. Satu hal lagi yang menyamakan, dua-duanya sama-sama jarang dijamah pengunjung. Paling kalau akhir pekan, liburan panjang dan malam tahun baru ramai didatangi orang.
”Kalau lagi terang bulan dan cuaca cerah, pantai-pantai di sini juga sangat indah,” ujar Ahmad Zamroi, warga setempat. Bila cerah, daratan Malaysia juga terlihat. Karena posisinya berhadap-hadapan dengan negeri jiran tersebut.
Dari penuturan Sumarto (55), warga Desa Sungai Cingam, dirinya pernah beberapa kali mencari ikan pada malam hari di kawasan pantai. Di salah satu bagian pantai, ada pasir yang menyala, seperti mengandung fosfor.
Namun tak banyak yang tahu fenomena tersebut, sebab tidak semua bagian pantai pernah dijamah orang, terutama pada malam hari.
“Pasirnya mengeluarkan cahaya. Pernah saya ambil dan saya bandingkan dengan pasir biasa, yang menyala itu lebih berat. Saya tak tahu zat apa yang dikandungnya,” ujarnya kepada tim ekspedisi.
Ia pun membenarkan bahwa pantai yang ada di kawasan tersebut baru-baru ini saja ramai dikunjungi orang. Dulu, sebelum ada akses jalan menuju pantai, paling hanya pencari ikan yang melintasi kawasan tersebut. Itu pun tak banyak, karena di sekitarnya masih hutan belantara.
Dari pengamatan tim, hamparan pantai berpasir putih yang eksotis di Pulau Rupat tersebut, ujungnya berada di sebelah utara Selat Morong. Sebab dari selat ke selatan, pantai sudah berlumpur. Bisa dibayangkan bagaimana besarnya potensi tersebut, bila garis pantai berpasir putih memang memanjang mulai dari Selat Morong hingga ke Teluk Rhu.(*)
Kategori Iklan: SEPUTAR RUPAT
Website:
Nama Pengirim: HENDRI GUNAWAN
Alamat Email: hendrirupat1@gmail.com
Kota: batu panjang
Nomor Telp/Hp: 085355760073
Ip Pengirim: 222.124.5.85
Tidak ada komentar:
Posting Komentar